Membuat website bisnis sering terasa seperti pekerjaan besar karena banyak hal muncul sekaligus: domain, hosting, desain, konten, foto, halaman, sampai tombol WhatsApp.
Padahal prosesnya jauh lebih mudah kalau kebutuhan dasarnya dibereskan dari awal.
Persiapan membuat website bisnis yang baik dimulai dari tujuan website, lalu dilanjutkan dengan domain, hosting, identitas brand, informasi bisnis, konten, struktur halaman, dan CTA.
1. Tentukan Dulu Tujuan Website
Sebelum membuka pilihan template, jawab satu pertanyaan:
Website ini mau membantu bisnis melakukan apa?
Jawabannya bisa berbeda.
Misalnya website dibuat untuk:
- membuat bisnis terlihat lebih profesional,
- menjelaskan layanan,
- mendapatkan inquiry,
- menampilkan portfolio,
- membantu calon pelanggan menemukan kontak,
- atau membangun kehadiran brand di pencarian Google.
Tujuan ini penting karena website yang dibuat untuk mencari leads akan memiliki struktur berbeda dengan website yang terutama berfungsi sebagai katalog informasi.
Jangan mulai dari desain. Mulai dari pekerjaan yang harus dilakukan website.
2. Siapkan Nama Domain
Domain adalah alamat website yang akan digunakan pengunjung.
Pilih nama yang mudah dibaca, mudah diucapkan, dan tidak membingungkan ketika dibagikan melalui WhatsApp atau media sosial.
Contohnya, kalau nama bisnis sudah kuat sebagai brand, biasanya nama domain juga lebih baik mengikuti brand tersebut daripada dipenuhi keyword panjang.
Untuk pasar Indonesia, ekstensi seperti .id, .co.id, atau .web.id dapat dipertimbangkan sesuai brand dan kebutuhan.
Yang penting, jangan sampai domain terlihat seperti string keyword yang dibuat hanya untuk mesin pencari.
3. Siapkan Hosting
Hosting adalah tempat website berjalan.
Untuk website bisnis sederhana, kamu tidak harus membeli paket paling mahal. Yang lebih penting adalah memastikan resource, stabilitas, backup, keamanan, support, dan jalur upgrade masuk akal untuk kebutuhan website.
Kalau masih bingung memilihnya, baca panduan memilih hosting WordPress.
4. Kumpulkan Identitas Brand
Sebelum website mulai dikerjakan, kumpulkan bahan yang sudah dimiliki.
- Logo.
- Nama brand.
- Warna brand bila sudah ada.
- Foto bisnis.
- Foto produk atau layanan.
- Link social media.
- Kontak bisnis.
Tidak masalah kalau brand belum punya brand guideline formal.
Yang penting ada bahan dasar yang bisa digunakan untuk menjaga website tetap konsisten.
5. Siapkan Informasi Bisnis
Ini bagian yang sering diremehkan.
Desain website bisa diganti kapan saja. Tetapi kalau informasi bisnisnya belum jelas, website akan tetap terasa kosong walaupun tampilannya bagus.
Siapkan minimal:
- Siapa bisnis kamu.
- Apa yang kamu tawarkan.
- Siapa target pelanggan.
- Masalah apa yang kamu bantu selesaikan.
- Area layanan jika bisnis bersifat lokal.
- Cara pelanggan menghubungi kamu.
Kalau bisnis punya lokasi fisik, siapkan juga alamat yang konsisten agar pengunjung tidak perlu mencari-cari informasi tersebut.
6. Tentukan Halaman yang Benar-Benar Dibutuhkan
Website bisnis tidak harus memiliki dua puluh halaman.
Yang lebih penting adalah setiap halaman punya fungsi.
Struktur sederhana bisa berupa:
Home → About → Services → Portfolio → Contact
Bisnis tertentu mungkin tidak membutuhkan Portfolio. Bisnis lain mungkin justru membutuhkan halaman Produk atau FAQ.
Google juga menyarankan agar struktur situs membantu pengguna dan mesin pencari memahami hubungan antarhalaman. Karena itu, buat navigasi berdasarkan kebutuhan pengunjung, bukan berdasarkan jumlah halaman yang ingin terlihat banyak.
Google Search Central: SEO Starter Guide
7. Tentukan CTA
Setelah pengunjung membaca website, tindakan berikutnya apa?
Ini harus jelas.
Untuk bisnis jasa, CTA bisa berupa:
- Hubungi WhatsApp.
- Minta Penawaran.
- Jadwalkan Konsultasi.
- Pesan Layanan.
Untuk bisnis retail, CTA bisa berupa:
- Lihat Produk.
- Beli Sekarang.
- Cek Katalog.
- Hubungi Admin.
CTA tidak perlu banyak. Satu tujuan utama yang jelas sering lebih efektif daripada lima tombol yang semuanya meminta perhatian.
Website Jangan Menunggu “Sempurna”
Salah satu jebakan paling umum adalah menunggu semua materi lengkap sebelum mulai.
Hasilnya website tidak pernah selesai.
Lebih baik pisahkan antara:
informasi wajib saat launch
dan
informasi yang bisa ditambahkan setelah website berjalan.
Profil bisnis, layanan, kontak, dan CTA mungkin wajib. Artikel blog yang belum selesai bisa menunggu.
Checklist Sebelum Website Dikerjakan
- ☐ Tujuan website sudah jelas.
- ☐ Nama domain sudah dipilih.
- ☐ Hosting sudah siap.
- ☐ Logo dan identitas brand tersedia.
- ☐ Informasi bisnis tersedia.
- ☐ Layanan atau produk sudah didata.
- ☐ Struktur halaman sudah dipahami.
- ☐ CTA utama sudah ditentukan.
Urutan yang Paling Masuk Akal
Kalau ingin sederhana, gunakan urutan:
Tujuan → Domain & Hosting → Konten → Struktur → Template → Setup → Review → Publish
Urutan ini membantu kamu menghindari kondisi di mana template sudah dipilih tetapi ternyata kebutuhan bisnis tidak cocok dengan struktur template tersebut.
Kesimpulan
Persiapan membuat website bisnis tidak harus rumit.
Fokus dulu pada tujuh hal: tujuan, domain, hosting, identitas brand, informasi bisnis, struktur halaman, dan CTA.
Kalau fondasi tersebut sudah jelas, proses pembuatan website akan jauh lebih terarah dan revisi yang tidak perlu bisa dikurangi.
FAQ
Apakah harus punya logo sebelum membuat website?
Tidak wajib. Tetapi logo dan identitas dasar akan membantu menjaga tampilan website tetap konsisten.
Apakah semua konten harus selesai sebelum website dibuat?
Tidak. Konten utama sebaiknya tersedia, tetapi materi tambahan dapat dikembangkan setelah website berjalan.
Berapa halaman yang harus dimiliki website bisnis?
Tidak ada angka wajib. Gunakan halaman yang memang membantu pengunjung memahami bisnis dan melakukan tindakan berikutnya.
Apakah domain dan hosting harus disiapkan sebelum mulai?
Untuk setup website secara langsung, domain dan hosting sebaiknya sudah tersedia dan dapat digunakan.